Pilkada di NTB Vs Golput Dou Mbojo

Pilkadal (Pemilihan Kepala Daerah Langsung) akan dilakukan oleh Propinsi NTB pada bulan Juli 2008 nanti. Harapannya, Pilkadal berlangsung dengan aman, damai, tertib, dan jujur dan menghasilkan pemimpin daerah yang bisa diandalkan. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, ada beberapa hal yang penting untuk dicermati:

• Para kandidat kiranya akan bersaing habis-habisan. Mereka melakukan “investasi” besar-besaran. Di dalam pemilu yang lalu banyak terjadi praktek bagi-bagi hadiah demi mendapatkan dukungan (vote buying). Banyak makelar politik akan beroperasi saat itu.
• Institusi-institusi informal (jejaring kekerabatan, adat, forum keagamaan) banyak dimanfaatkan oleh masing-masing kandidat dan pendukungnya. Akan terjadi mobilisasi semangat primordial: ikatan kesukuan, ikatan keagamaan, jalinan kekerabahan dan sebagainya. Adat, agama, ras dan sejenisnya bisa dimanfaatkan sebagai kedok politik para tokoh yang menjagokan dirinya.
• Suhu politik akan memanas dan konfigurasi sosial-politik di daerah NTB bisa berubah. Hal ini ditandai:
o Semakin sering dan intensifnya pertemuan-pertemuan publik dilakukan. Sangat boleh akan terjadi banyak mobilisasi massa.
o Semakin besarnya potensi konflik internal kelompok/komunitas. Ketika dari suatu komunitas ada lebih dari dua kandidat yang tampil, mereka bisa terjebak dalam konflik internal.
o Demi memperbanyak dukungan, di daerah tertentu bisa terbangun jaringan-jaringan atau aliansi-aliansi baru. Tidak tertutup kemungkikan, konflik-konflik lama berkecamuk lagi dengan kedok baru.
o Ada suasanya saling mencurigai. Banyak rumor, bahkan fitnah beredar di sana sini.
• Sejumlah pejabat birokrasi pemerintah daerah ikut terlibat dalam pertarungan merebut jabatan nomor satu di daerahnya.
Implikasinya:
o Asset pemerintah daerah termanfaatkan untuk kepentingan kandidat tertentu, karena permintaan pejabat yang bersangkutan.
o Netralitas birokrasi pemerintah bisa tidak terjamin lagi (kalau memang pernah netral).
• Golput yang menjadi fenomena “klasik” dalam pemilihan kepala daerah langsung (pilkadal) diberbagai daerah harus mendapat perhatian khusus pada pelaksanaan pilkada di NTB.
Mengapa Golput dalam pilkada kembali menguat menjadi the other discourse di tingkat perpolitikan lokal?
o Bagi kalangan yang berpandangan positifistik khususnya kalangan akademisi, fenomena golput merupakan kewajaran dalam proses politik. Karena golput merupakan ekspresi pilihan politik yang tidak tersalurkan atau tidak memiliki orientasi dukungan politik tertentu.
o Selain itu, golput dalam mekanisme pemilihan kepala daerah langsung dianggap sebagai realitas “rendahnya” kesadaran politik masyarakat pemilih. Karena mereka menganggap memilih bukan kewajiban namun hak sosial.
o Namun bagi kalangan kritis dari komponen akar-rumput termasuk pegiat gerakan demokrasi di Indonesia, golput merupakan wujud resistensi politik masyarakat berkesadaran politik kritis terhadap sistem/mekanisme demokrasi yang bernafaskan nilai-nilai politik yang manipulatif dan unfairness. Mengapa kelompok kritis berpandangan demikian? Ada beberapa asumsi:
? Pertama, karena kelompok kritis masyarakat–komunitas gerakan mahasiswa-buruh-jurnalis-intelektual organik-NGO, dsb—menganggap bahwa sistem pemilihan umum (termasuk pilkada) lebih membuka ruang bagi kemenangan modal dibanding kemenangan aspirasi objektif masyarakat. Karena “watak” demokrasi transisional yang terfasilitasi dalam pemilu dan pilkada lebih berwatak borjuistik. Mengabaikan aspirasi masyarakat dalam pengertian yang autentik. Secara sederhana sistem pemilu atau pilkada –yang dilegitimasi UU No 12 tahun 2003 dan Uu No 31 tahun 2004–lebih memberatkan kepada kepentingan partai-politik dan kelompok “elite” birokrasi-pengusaha. Hal ini tercermin dalam contoh sederhana dieliminasinya hak masyarakat non partisan untuk mencalonkan diri sebagai kandidat kepala daerah dalam pilkada. Hanya mereka yang bisa merapat dan selaras dengan kepentingan partai-politik besar yang bisa maju sebagai kandidat kepala daerah.
? Kedua, besarnya persentase golput dalam pilkada (sebagaimana pemilu) bukanlah menunjukkan lemahnya sosialisasi pemilu oleh institusi penyelenggara pemilu namun karena semakin kuatnya kesadaran politik masyarakat. kesadaran politik yang memberikan penilaian evaluatif dan penyimpulan kritis bahwa pilkadal dan pemilu hanyalah momentum pergantian kekuasaan yang tidak akan signifikan membawa perubahan. Hal ini didasari oleh beberapa keyakinan:
? Pertama, regenerasi kepemimpinan nasional/daerah masih didominasi aktor-aktor lama ataupun aktor politik “baru” berwatak lama yang berpotensi korup.
? Kedua, pemilu atau pilkada hanya momentum semu demokrasi karena segala unsur dan anasir lama politik yang “buruk” belum dibersihkan dari ranah perpolitikan reformasi. Sehingga era sekarang banyak partai dan banyak tokoh politik namun mindsetnya ala Orba.
? Ketiga, karena momentum pilkada dan juga pemilu merupakan arena politik bagi kelompok elite sosial yang memiliki keunggulan ekonomi. Mereka yang kuat secara ekonomi dan politik –didukung sumber finansial yang kuat dan dukungan partai —akan menjadi pemenang. Karena memang biaya demokrasi di negeri ini angat mahal. Biaya kampanye pilkada di banyak daerah yang harus keluar dari kocek calon kepala daerah yang serius ingin menang dalam pilkada rata-rata lebih dari kisaran angka 5 miliar rupiah.

Ancaman Golput “Dou Mbojo”
Ada fenomena menarik yang terjadi pada proses pilkada NTB saat ini. Jika kita perhatikan paket-paket calon yang diusung oleh partai sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB untuk mengikuti pilkada bulan juli mendatang belum ada atau bisa jadi nanti tidak ada figur yang berasal dari daerah yang terletak paling timur Propinsi NTB ini (baca : Bima. RED). Semua paket yang sudah ada saat ini merupakan kombinasi dari dua suku saja yaitu Sasak-Sumbawa. Padahal NTB saat ini terdiri dari tiga suku besar yaitu suku Sasak, suku Bima-Dompu, dan suku Sumbawa.
Hal ini jika tidak di cermati dengan baik dapat berpotensi sebagai sumber masalah dalam proses demokrasi di Bumi Gora ini. Sebagai ilustrasi, tadi malam saya ditelepon oleh beberapa tokoh pemuda asal Kabupaten Bima yang mengeluhkan masalah ini. Tidak adanya tokoh mereka yang terlibat dalam pilkada juli nanti menimbulkan kekhawatiran akan tersingkirnya etnis mereka dari persaingan perpolitikan di NTB. Padahal kalau kita boleh jujur putra daerah Bima tidak kalah bersaing dari putra daerah Lombok, maupun putra daerah Sumbawa, bahkan bisa dikatakan dari segi kecerdasan, dukungan politik, relasi nasional dan internasional, putra tanah Bima berada pada top level.
Kemungkinan golput dou mbojo, sebutan bagi masyarakat Bima, sangat besar peluangnya. Dari hasil survey yang saya lakukan melalui SMS pada 100 orang mahasiswa yang berasal dari Bima, saya memperoleh hasil yang cukup mengagetkan. Dari jawaban SMS mereka, 100% atau seluruhnya menyatakan tidak akan memberikan hak suaranya, jika tidak ada wakil dari DOU MBOJO yang terlibat sebagai calon bai Gubernur maupun Wakil Gubernur pada Pilkada NTB juli mendatang.
Golput masyarakat Bima dalam momentum pilkada di NTB kali ini bisa dikategorikan menjadi golput yang pragmatis dan Idealistik. Golput yang pragmatis adalah mereka (masyarakat Bima) yang tidak memilih karena memiliki asumsi bahwa memang tidak ada yang pantas dipilih dalam pilkada karena tidak adanya keterwakilan etnis mereka.
Sedangkan golput yang idealistik adalah mereka yang tidak memilih karena dengan tidak memilih berarti mereka telah berbuat lebih terhadap proses pilkada. Turut menurunkan kadar legitimasi politik kandidat kepala daerah terpilih, sehingga apabila kepala daerah terpilih mengkhianati janji-janji dalam kampanye pilkada mereka bisa bergerak sebagai kekuatan oposisi ditingkat lokal.
Sejauh ini ancaman golput yang disuarakan oleh pemuda Bima belum mendapat tanggapan baik dari pihak partai, maupun dari KPUD NTB. Menarik kita tunggu kelanjutan drama pilkada di NTB ini. Harapan saya semoga semua ini dapat menjadi pelajaran politik yang berharga bagi kita semua. Amin.

*) Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana UGM Yogyakarta
Konsentrasi Politik Lokal Dan Otonomi Daerah
e-mail : aks82rm@yahoo.com


8 Responses to “Pilkada di NTB Vs Golput Dou Mbojo”

  1. ardiansyah Says:

    isu golput masarakat bima yang dilontarkan sangatlah mengoyak hati nasionalisme kita dimana kita seharusnya ikut serta dalam pesta demokrasi akbar ini, tetapi terjadi sebaliknya masalah apa yang terjadi sehingga masyarakat dana mbojo enggan ikut serta dalam pesta demokrasi ini? apa ada keterkaitannya dengan pembentukan Profinsi Nusa Tenggara Tengah? apa elit politik dana mbojo tidak mampu secara politik bersaing dengan calon-calon dari daerah lain? sangat lucu kalau kedua pertanyaan itu benar adanya karna kita lihat elit politik dana mbojopun banyak yang menjadi orang-orang penting baik tingkat profinsi maupun nasional dan tidak perlu dipertanyakan konstalasi dan dedikasinya. kalau memang menyangkut dengan terbentuknya Profinsi Nusa Tenggara Tengah wah-wah….. cita-cita yang besar untuk di perjuangkan dan saya pribadi memberikan selamat karena elit politik kita telah menggagas program yang telah dilakukan oleh penjajah belanda dengan pemecahan wilayah agar dapat diinfasi dengan mudah. program ini hanya kamuflase sistem dengan mengubah namanya dengan nama Pemekaran Wilayah selamat…………..

  2. Jaro Says:

    BETUL itu kawan. jika saya jadi anda, saya akan boikot Pilkada NTB. Para petinggi partai sama sekali tidak memperhitungkan saudara2 Dou Mbojo.

  3. Aba jelo Says:

    Kecewa dengan dengan tidak adanya wakil mbojo di pemilihan Gubernur NTB kali ini boleh-boleh saja, tapi jangan emosional dunk sampe harus memboikot PILKADA segala. Kalo GOLPUT DOU MBOJO bener-bener di laksanakan wah ngga bagus bener deh untuk pendidikan politik, kasihan generasi berikutnya mendapat imbas dari Golput semacam ini.
    ketidak adanya wakil mobojo di arena PILGUB bukan berarti orang mbojo tidak punya tokoh-tokoh yang berkualitas, tapi mari kita lihat realitas politik saat ini di NTB, orang-orang mbojo jarang sekali menduduki posisi strategis di kepengurusan partai setingkat propinsi jadi bagaimana bisa ikut terpilih jadi Cagub/Cawagub kalo wakil mbojo sendiri tidak duduk sebagai pengurus teras sebuah partai??? Inilah realitas politik, semua prosedur politik harus menghormati sistemnya dunk, Jadi bagi dou mbojo yang menginginkan jadi Cagub/Cawagub kedepan harus masuk ke partai dan menjadi pengurus teras sebuah partai poltik dulu, sehingga memungkinkan peluang wakil mbojo menjadi CAGUB/CAWAGUB menjadi terbuka atau kalau nanti “Calon Independen” sudah memungkinkan dapat mengikuti PILKADA, agar wakil mbojo bisa memanfaatkan peluang tersebut. Jadi mari kita sama-sama menghargai realitas politik saat ini jangan berburuk sangka yang akhirnya akan membenturkan kita pada issue etnis yang tidak produktif.
    Tapi sebagai warga negara, dou mbojo pun punya hak untuk di plih maupun memilih, jadi keputusan Golput dou mbojo juga harus di hargai oleh semua komponen bangsa di NTB ini, karena seperti itulah hakekat berdemokrasi yaitu menghargai perbedaan dan SIAP menang atau kalah di Persaingan Politk yang SEHAT.

    Ok, Santabe kancore, warasi makancaru ta kantiri menapu.

    Salam
    Aba jelo
    Mataram

  4. Hery Says:

    memang susah kalau harus memilih dua dari tiga pilihan, salah satu harus mundur… entah itu sasak, samawa atau mbojo. Tentu akan menjadi tidak menyenangkan bilamana salah satunya harus tereliminasi… tapi ini kan dalam hal politik (pemilihan eksekutif) dimana kenyataan yang ada di negera kita dan bahkan mungkin jg berlaku di banyak negara lain di dunia memang hanya ada 1 pemimpin dan 1 wakil pemimpin.. kalau boleh ada 2 pemimpin/wakil pemimpin maka tentunya kenyataan yang tidak menyenangkan ini tidak perlu terjadi…. Saudara/i kami dari mbojo…. saya yakin… keputusan untuk golput bukanlah pilihan tepat…. Presiden SBY dan wakilnya Yusuf Kala bukanlah putra NTB tapi kenapa banyak kita dari NTB yang memilihnya? Tentunya karena kita masih memiliki harapan untuk sebuah perubahan walaupun kita (masyarakat NTB) merasa pesimis jika mereka akan memberikan perhatian yang sama seperti kepada daerah asal mereka sendiri

  5. dou mbojo Says:

    Terkait dengan tidak adanya calon dari bima, tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada saat pemilihan NTB-1 sekarang ini, kita harus meyakini bahwa semua itu adalah proses, dan kita orang bima selama ini kita terlalu bermain di daerah sendiri (baca: bima), tidak ada yang berani bereksplorasi di wilayah regional..Kalau mau GOLPUT sah2 saja, tp lihat efek kedepan bagaimana, jgn sampai dengan emosi sesaat kita bisa kalah dikemudian hari (ingat kita masih bagian NTB)..beberapa solusi kedepan sekiranya bapak/abang yang menulis ini dan kita bersama mulailah membangun paradigma untuk tidak terlalu bergantung dengan daerah lain, mulailah kita berkonsolidasi untuk 2014 (apalagi yang saya dengar banyak orang bima yang kuliah pasca sarjana di UGM–harapannya bisa digali potensinya)-…, mulailah memerhatikan potensi (kelautan,pertanian,hutan) yang ada di kita karena pada saat ini rata2 pengoptimalan sumber daya baru 40%..satu lagi kalau mau potensi tersebut maximal, daya jual terutama potensi kelautan dan pertanian berdayakan KAPET yang ada karna ada indikasi jika mengalami stagnasi akan dibekukan, so tidak usah dikirim lewat Sumbawa/Lombok, langsung saja dikirim melewati transportasi laut..satu lagi yang menarik terkadang kita orang bima tidak saling menghormati pendapat orang lain dan cenderung untuk meremehkan..Apakah bisa diperbaiki tabiat seperti itu?????Kalembo Ade abang..

  6. JALEDO Says:

    Dear teman-teman, tidak seharusnya kita golput, buruk muka, koq cermin dipecah. Kalo ada yang disesalkan, hanya satu, kita dou mbojo terlalu local centris, tidak ada lagi tokoh bima saat ini, kebanggaan sebagai orang mbojo juga semakin berkurang. Orang mbojo di Jakarta terlalu men-dewakan jabatan bupati dan wakil bupati mbojo dan dompu, from Jakarta with high ambition, mereka datang dengan membusung dada, mengaku dou mbojo terbaik, merebut tulang tanpa isi. Jadilah dou mbojo-dompu tertinggal di tingkat propinsi. Kalo betul mengaku punya uang, pengaruh di pusat, pintar, coba dong bermain di level yang lebih tinggi. Saya kira bukan kebetulan dou mbojo tidak ada yang menjadi calon, tetapi peta politik sudah diperhitungkan oleh para pemain inti saat ini. Yah, saya tidak bermaksud sektarian, dou mbojo memang sudah tertinggal atau DITINGGALKAN…

  7. rustam Says:

    Assalamualikum..
    Ada satu beberapa hal yang mungkin patut dicermati dalam masalah ini. Pertama, pertanyaan yang harus dilontarkan adalah, kenapa sampai hal ini (tidak adanya kandidat dari tanah maja labo dahu) terjadi? Apakah memang tidak ada figur yang layak untuk menjadi kandidat? Atau telah terjadi permainan politik yang mengisyaratkan adanya sabotase atau rekayasa Politik sehingga kandidat dari tanh mbojo ‘digagalkan’? Jika hal ini tejadi karena memang tidak ada kandidat yang layak dari dou mbojo, saya pikir inilah saatnya dou mbojo belajar tentang kedewasaan berpolitik dan sekaligus sadar bahwa dou mbojo ternyata ‘belum selevel’ dengan dou yang lain. Tetapi jika telah terjadi sabotase politik, maka tidak ada pilihan lain selain BOIKOT!!! Yang kedua, inilah kenyataannya. Bahwa mbojo tidak akan pernah bisa maju jika pilar-pilar adat, status sosial serta suku masih menjadi tolak ukur/kadar utama untuk menjadikan kita berpikir bahwa kita lah yang terbaik.. Saya sepakat jika dikatakan mbojo masih localsentris… Mada dou mbojo asli, tidak ada niat menjelek-jelekkan apalagi menghina dou mbojo. Saya hanya ingin berbicara apa adanya..
    Saatnya bercermin diri menuju dana mbojo berkualitas dan bermartabat!!!

  8. yant Says:

    sebagai rakyat seyogyanya kita menggunakan hak pilih kita, pas kalo memilih gak mau ikut tapi kalo demo ikut2an malah ngerusak, jadi berfikir yang jernoh lah kawan

Leave a Reply