Budaya Rimpu

Salam kenal. liat situs ini saya jadi ingat masa kecil saya di Bolo.. waktu itu ibu-ibu di kampung saya tersebut masih banyak yang kesehariannya memakai rimpu (sarung yang digunakan di kepala seperti theme blog ini). Hingga sekarang saya belum tahu bagaimana kebiasaan tersebut menjadi budaya yang sangat melekat kala itu, tapi yang pasti budaya yang sesuai syariat islam itu sudah jarang ditemukan lagi. yang tau sejarahnya, ceritain dong !.

Salam kenal,

Iksan


8 Responses to “Budaya Rimpu”

  1. lamone Sape Says:

    asalamualaikum,,, saya tertarik dengan apa yang sodara iksan tulis skarang kemana buya rimpu yang jaman dulu sangat di wajibkan untuk wanita-wanita bima (sampela-sampela mbojo) tersebut yang saya lihat dan perhatikan terutama sampela-sampela mbojo sudah tidak ada yang keluar rumah dengan memakai rimpu katanyasih kayak ninja&ktinggalan jaman padahal itu salah satu budaya daerah kita yang harus di lestarikan, malahan mereka kalau keluar rumah sekarang hanya berpakaian clna panjang yang ketat dengan baju yang ketat&tipis Kemana sampela mbojo mantoi ma to’a ade agama ra ina ro ama. kg usalah ikutin budaya barat padahal kitakan orang timur.

  2. Halen Marantika Says:

    aku sangat mendukung sekali Dipakainya budaya Rimpu kkhusu untuk orang bima, karena saya merasa memakai rimpu tembe adalah menandakan kita orang bima sangat taat atas peraturan agama yang mewajibkan kaum hawa menutupi auratnya. apalagi kita orang bima dimata masyarakat indonesia adalah contoh daerah yang bermuslim hampir 100 %. kita sebagai masyarakat bima harus memberika contoh untuk kaum hawa khusunya di indonesia dan umumnya untuk masyarakat intenasional, maka dari itu saya mengharapkan peran dari kaum hawa untuk melestarikan budaya rimpu ini untuk selamanya dan jadikan rimpu sebagian dari iman kita amin……
    salam buat keluargaku di rasabou
    Pesan saya untuk masyarakat bima tuntutlah terus ilmu dan teruslah belajar sampai setinggi tingginya dan kalau udah punya ilmu yang banyak aina nefa lao dula mbali akan rasa ndai untuk membangun kota bima yang tercinta

  3. Rengorose Says:

    Yah … rimpu telah menjadi budaya yang hilang …
    Sekarang memang tinggal pertanyaan kemana budaya kita itu ..?
    Mungkin rimpu hanyalah sebuah warisan turun temurun yang tidak begitu berharga, bahkan cukup aneh untuk dianut jaman ini.
    Smoga rimpu yang dulu melekat dan begitu memikat namun akhirnya mangkat, smoga bisa jadi simbol bahwa perempuan Mbojo terhormat, menjaga aura dan aurat.
    Altough rimpu is not your style now, please dont change it with everything you can see yang penting-penting. Malu ….

  4. syarif risa Says:

    Budaya rimpu merupakan budaya yang seharusnya kita banggakan bagi dou mbojo, karna rimpu adlh ciri khas dou mbojo yang tidak di punyai dan dimiliki oleh daerah lain, rimpu juga mempunyai nilai-nilai islami yang tinggi. Dou2 ma tua ndai ntoina ketika ada acara2, wa,a mbongi, kaboro weki, sunatan, do,a, nika ra neko dll yang dipakai adalh rimpu tembe tapi sekarang sudah tidak ada lagi yang ada adalah pakaian “au kombi ngara na ti disa kone di ngahi”.
    Yang menjadi pertanyaan kita dou mbojo sekarang adalah kenapa ini bisa hilang???????????
    kalo menurut saya adalah dulu dou mbojo masiwe na tidak terlalu banyak yang sekolah diluar daerah apa lagi sampai keluar negeri sehingga pengaruh-pengaruh kebarat-baratan atau dari luar tidak terlalu banyak yang masuk. ciri2 khas dou mbojo rimpu re pun tetap terjaga, ketika saya SMP tahun 90an rimpu masih banyak kita lihat di kampung2 wunga lao ak tolo, wunga wara acara do,a2 dll. Setelah tahun 90an ke atas banyak amancawa ndai mbojo yang sekolah diluar daerah mataram, makasar,jogja,malang dan disekitarnya yang pada awalnya ciri khas mbojo na re mbui pu kental rimpu ra jilbab na,e na setelah “mori ra woko na dirasa dou batu lata ra kani ra, rawi ra ruku na” sehingga dula mbali dirasa na maja ra ade na kani rimpu aka na nde, di kani nare ma “modern ngahi nare” tei ra sa,e ro ari na, n lenga- lenga na( dahu ngahi ma dou siwe kampo na). berawal dari pengaruh amancawa2 ndai ma dula di kota2 termasuk malao ngupa karawi di kota2 besar. Mulai dari ini hilanglah ciri khas rimpu.
    Mboto-mboto kangampu di amancawa doho wara si mancara ra ka ncaru tapi yang jelas TIDAK SEMUA .
    SARAN NDAI KU
    Di ru,u amancawa n cina ro angi aina wa,a ka dula ma “bona2″ re paki sai pa aka moti sumbawa ka ta wa,a pa ma “taho2″ ma sesuai la,o ndai mbojo ni…
    thanks. salam kenal buat lenga doho yang merantau. tetap berjuang…. semoga sukses aja ” aina neva maja labo dahu di rasa dou”

  5. HaR KaMpO SuNTu - MboJo Says:

    …AINA NEFA CINA RO ANGI…

    “”"…MAJA LABO DAHU

    “”"…NGAHA AINA NGOHO

    “”"…NGGAHI RAWI PAHU

    aDe MoRi Ra WoKo Kai aKa DaNa rO Rasa dOu…”"”
    AiNa NeFa FiKi Ro KaNaNu MeNaPu ‘ba’Di Ru’U Nai rO ‘di’diSi…”"”
    mAi Ta CuA KaSaMa WeKi rO KaNa’E Pu KaLeMbO aDe
    Ma Wa’Usi SUKSES rO BERHASIL PeDe…AiNa NeFa LAMBA MENAPU RASA

    “”"…O…CINA RO ANGI SAMA MBOJO…”"”
    “”"…MAITA CUA KANTIKA RO KARASO MENAPU DANA RO RASA MBOJO…”"”

    HaR / FraNcOs
    KaMpO SuNTu - PaRuGa
    BiMa - eNTeBe

    di -
    JaKaRTa

  6. Sabhone Says:

    Dahulu, Perempuan-perempuan Mbojo enggan untuk keluar rumah jika tidak mengenakan Rimpu, ia tidak saja budaya tapi implementasi dari syariat islam. Dan kini saya kehilangan banyak hal tentang identitas Mbojo itu sendiri karena Dou Mbojo yang sekarang asyik menghayal tentang negeri dongeng yang dibeberkan secara ekstrim oleh sinetron dan globalisasi. Mereka terseok-seok disudut Zaman demi mimpi menjadi bagian dari produk Kapitalis….Saya bujangan yang kembali bermimpi mendapatkan jodoh Siwe Mbojo yang selalu Menjaga dirinya seperti Siwe Mbojo yang selalu mengenakan Rimpu dan tahu jelas identitasnya tanpa harus berlindung dibalik identitas orang lain…. adakah yang mau membantu saya?

  7. rian simimbora Says:

    saya terharu sekaligus sedih dgn banyaknya budaya2 asli bima yg terlupakan……
    saya berharap agar budaya2 asli bima bisa di hidupkan lagi seperti:
    rimpu tembe, gantao dan banyak lagi yg lainnya yg saya sendiri jg lupa
    sudah menjadi tanggungjawab kita bersama sebagai generasi muda bima untuk mencari tau dan menggali dari orang2 tua kita yg mengetahui tentang budaya2 tersebut sehingga kita sebagai generasi mudanya dapat mengembangkan dan mempromosikan budaya2 tersebut………..sehingga Bima kita tercinta bisa lebih meriah dan terkenal lagi dgn keragaman budayanya……………..

    salam saya………….
    Rian_simimbora@yahoo.com

  8. Mas Bembi Says:

    Budaya rimpu bagi kaum hawa di masyarakat Mbojo memang secara perlahan mulai redup dan semakin menunjukan tanda bahwa budaya ini akan menjadi memori masa lalu. Namun demikian, kita jangan lantas berputus asa dan membiarkan budaya manis dan bernilai ini hilang ditelan waktu seiring dengan perkembangan zaman, tapi mari kita bangkit dan bangunkan kembali. Kita dapat memulainya dari keluarga kita sendiri. Saya yakin dengan sebuah komitmen dan awal yang baik dari masing-masing keluarga, budaya rimpu ini bisa terbangun kembali. Haruskah kita menunggu negara lain menggali sejarah budaya kita yang kemudian mereka adopsi dan menjadikan itu sebagai warisan nenek moyang mereka? Mari kita serentak berkata “No” dan “Yes” untuk kebangkitan budaya kita, budaya rimpu Mbojo mantika. Salam buat murid-muridku tercinta alumni SMA 1 Wera th.2000-2007, begitu juga buat murid-murid saya di SMP Bambaloka-Mamuju, Sulbar th.1994-2000.

Leave a Reply