BEHIND THE SCENE NOVEL BARUKU; Sebab Cinta Tak Harus Berkata
Apakah yang paling saya ingat tentang novel baru saya ini?!
Dalam acara bengkel kepenulisan MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara – South East Asia Literary Council) ; Novel 2006 lalu, mewakili Indonesia, kami diharuskan menulis sebuah novel (minimal 3 Bab) yang belum terbit. Dan… Sebab Cinta Tak Harus Berkata inilah yang saya bawa di acara besar itu.
Saya jadi teringat akan kebersahajaan pak Ahmad Tohari (makasih atas spiritnya, pak. Juga untuk endorsmentnya untuk novel ini!). dalam sebuah sesi, kami diharuskan membaca satu bab dari novel kami masing – masing. Sayapun membaca bab pertama.
Setelah selesai membaca, merupakan sebuah penghormatan yang luar biasa bagi saya pribadi, ketika dengan penuh senyum, sastrawan besar penulis trilogy Ronggeng Dukuh Paruh itu bertepuk tangan untuk saya, dengan penuh semangat.
Kenangan itu begitu kekal dalam ingatan. Memberikan inspirasi dan motivasi dalam proses menulis saya.
***
Menulis novel adalah impian saya sejak lama. Saya begitu ingin melatih napas panjang saya dalam dunia menulis. Dan… salah satu caranya, ya, dengan menulis novel. Rasanya, keinginan itu begitu menggelora. Setelah saya cukup lama dan alhamdulillah cukup produktif menulis ratusan cerpen dan puisi.
Sebab Cinta Tak Harus Berkata (SCTHB) sebenarnya bukan novel pertama saya, karena sebelum jatuh cinta pada SCTHB, otak saya sempat merancang beberapa novel yang pada akhirnya, karena saya begitu sering ngos – ngosan (tentu saja bukan karena lupa minum Ekstra Joss ???), akhirnya embrio itu hanya mampu menjadi cerpen atau bahkan ‘lahir prematur’ (maksud saya, dibilang cerpen bukan, dibilang novelet bukan, dibilang novel apalagi?). Yang lebih luar biasa, setidak – tidaknya bagi saya pribadi, novel ini –dengan ijin Allah- saya selesaikan hanya dalam beberapa hari saja. Bahkan saya seolah tak percaya, bahwa saya baru saja menulis sebuah novel. Subhanallah!
Apakah yang membuat saya begitu jatuh hati dan ingin menampilkan Sebab Cinta Tak Harus Berkata menjadi sebuah novel yang utuh?!
Awalnya saya dipinjami seorang teman di FLP NTB dua buah novel, Siluet Senja-nya Hafidz & Ria dan Cinta Ilalang-nya Afifah Afra. Selain dua novel itu, sebelumnya saya juga dipinjami (lagi, soalnya minjam itu indah ?)seorang anggota FLP sebuah naskah novel yang belum terbit, ceritanya saya disuruh membantai novelnya. Yang paling menarik bagi saya dan memaksa saya menghadirkan novel ini adalah novel teman di FLP NTB yang belum diterbitkan itu. Apa sebab?! Hanya satu, novel itu berlatar Bima, tempat bertahun – tahun saya menyulam napas.
Karena itu, saya menjadi begitu malu. Rasa malu yang pada akhirnya memacu saya untuk juga menulis novel. jika Afifah Afra, Hafidz & Ria dan juga teman FLP itu sanggup menulis novel, kenapa saya tidak?! Kebetulan juga, beberapa tahun yang lalu saya pernah mencari data cerita legenda Bima, Wadu Ntada Rahi, yang oleh pemimpin sanggar saya rencananya akan kami pentaskan dalam bentuk drama pada sebuah acara kebudayaan dalam rangka Milad sanggar kami (Pasapu Monca) beberapa tahun yang lalu, dan saat itu sayalah yang ‘dipaksa’ untuk mencari data sekaligus menulis naskahnya.
Maka, dengan berbekal data penelitian itu, sayapun menulis SCTHB. Sebuah cerita dengan setting Bima tempo dulu. Alhamdulillah juga, saya memiliki beberapa orang nenek yang dengan cerewetnya (Dirman jahat ya?!) berebut menceritakan masa lalunya, terutama masa remajanya dan… nostalgia masa pacaran ?! Tapi jangan salah, Bima adalah daerah yang sangat religius (jadi gaya pacarannya beda banget dengan remaja jaman jahillia sekarang), bahkan pakaian sehari – hari perempuan Bima adalah rimpu, yaitu semacam jilbab tradisional yang bahkan ada yang menyerupai cadar, meskipun saat ini sudah hampir punah karena arus modernisasi.
Akhirnya, semoga kita tetap kukuh di jalan cinta, selalu menebarkan cinta pada semesta, yang pada akhirnya akan semakin meneguhnya cinta kita pada yang Maha Cinta; Allahu rabbi…
Dan, penghargaan khusus saya persembahkan untuk bunda Pipiet Senja, yang tak berhenti memberi kritikan dan masukan yang merupakan energi besar bagi saya untuk menyelesaikan novel ini. Juga kepada Om Nas, direktur Genta Press yang merancang dengan bagus penampilan buku ini.
***
Inilah beberapa pujian untuk novel ini!
Ini novel yang memukau. Akhi Dirman mampu menggali latar etnik Bima dengan bagus dan lembut.
(Ahmad Tohari, Sastrawan)
Dirman menulis novelnya dengan bahasa yang indah, jernih dan puitik. Semoga maju jaya dan menjadi penulis produktif dan bermutu.
(Puan. Siti Aisah Murad, sastrawan, Jabatan DPB Kuala Lumpur, Malaysia)
Dirman adalah semangat. Dan buku ini mencerminkan semangat yang bergolak dalam dirinya untuk selalu menegakkan pena. Warna lokal yang diusungnya semakin memperkuat semangat itu. Karya yang menarik dan akan menginspirasi pembacanya.
(Rahmadiyati Rusdi, Redaksi Pelaksana Annida)
Novel yang mengupas tentang dukalara perempuan telah banyak. Tapi Dirman membesutnya dengan konflik adat daerah. Bagus dan menawan!
(Pipiet Senja, Novelis, Tinggal di Depok, Jawa Barat)
Moga kekal mencintai ilmu dan terus intim dengan buku. Teruslah perjuangan menegakkan KALIMATULLAH, Dirman!
(Zaid Akhtar, Novelis Malaysia)
Saya pertama kali bertemu Dirman di acara MASTERA. Saat itu, saya mengenal sosok Dirman sebagai penulis yang masih muda, berbakat dan kreatif. Semakin saya mengenalnya, saya semakin merasakan ‘sesuatu’ dalam dirinya. Sebuah kreativitas yang luar biasa besar. Saya bekata dalam hati saya; anak muda ini luar biasa!
(Sulaiman Tripa, Novelis Aceh)
Pada usia relatif muda, Akhi Dirman telah berusaha menggarap karya yang cukup berarti. Sikapnya yang konsisten dan rendah hati dalam berkesenian layak dihormati. Bila bertahan dengan keteguhan dan tak silau, ia merupakan segelintir harapan yang tersisa untuk bangkit bersama dan mewujudkan impian generasinya.
(N. Marewo, Sastrawan tinggal di Bima)
Akhi Dirman, anugerah tak ternilai kebanggan FLP NTB. Semoga novel yang sangat menyentuh ini menjadi satu babak yang indah dari rentetan dakwah lewat pena berikutnya. Terus ekspos Bima tercinta dalam karya…
(Emzi Azzam, Divisi PSDM FLP NTB)
Dirman, lu keren banget! Novel lu menyentuh dan bikin gue terharu banget! Yang lebih keren, lu mampu menulis novel lu dalam bentuk skenario film, memproduksi dengan biaya sendiri, menciptakan dan menyanyikan lagu soundtrack, juga…. menjadi pemain! Gue kagum ma lu, Fren! Keren…!!!
(Fauzy, sahabat, direktur FOSSCOM Multimedia)
April 16th, 2008 at 10:29 pm
salam kenal….
saya sebenarnya belum baca novel saudara, tetapi saya hanya melihat covernya saja ketika saya lagi jalan-jalan dan menunggu penerbitan buku saya dkk di yogya (Bima dalam Menyongsong Dinamika Global) yang diterbitkan atas perjuangan KKPMB Malang “Kerukunan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Bima Malang”. Atas kebaikan hati Guru Nas/Nasrullah Ompu Bana (Pemilik Genta Press) saya diberikan sinopsis tentang novel saudara. dari judulnya saja saya merasa bahwa apa yang anda hadirkan sangat fantastis. saya akan segera ke toko buku untuk membeli Novelnya. selamat yah, moga kita dapat menggemparkan dunia dengan kekuatan menulis. ekspresikan dirimu hingga negeri tak terjamah.
April 20th, 2008 at 9:40 pm
terima kasih. oya, ditunggu kehadirannya di blog saya; akhidirman.multiply.com.